Mengenang Sastrawan Danarto

Balai Soedjatmoko Surakarta akan menggelar acara bertajuk “Membaca Danarto” untuk mengenang kepergian salah satu pujangga sastra di tanah air yang akibat kecelakaan di bulan april lalu. Pada gelaran tersebut 9 buku buah karya Danarto akan diulas oleh 9 pengoceh. Memang tak berlebihan bila menyebut sastrawan kelahiran Sragen 27 juni 1940 tersebut sebagai maestro. Berbagai karyanya begitu dominan membawa dampak bagi para penulis lain pada masanya.

 

Gelaran sastra untuk mengenang 9 karyanya  yang terpopuler

Karya penulis yang berpulang pada usia 77 tahun tersebut seolah tak habis dibahas dalam 20 tahun atau mungkin lebih. Berbagai penghargaan yang menunjukkan kompetensi istimewanya dalam bidang sastar menjadi bukti, contohnya cerpen Rintik yang sukses menyabet Hadiah Horison tahun 1968, Adam Ma’rifat (kumpulan cerpen) yang memenangkan Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 1982 serta Hadiah Utama 1982, Berhala (kumpulan cerpen) yang berhasil meraih Hadiah Buku Utama Departemen P&K pada 1987, belum berbagai penghargaan internasional dari karya-karya sastranya.

 

Meninggalnya Danarto tak hanya membuat kota Solo yang sangat ia kenal setiap sudutnya berduka, tapi juga seluruh pegiat sastra di tanah air. Diskusi Kecil Pawon dan Kamar Kata Karanganyar penggagas gelaran sastra di bulan ini mengenang kembali sastrawan tersebut dengan mengulas 9 buku karyanya, yaitu Asmaraloka, Setangkai Melati di Sayap Jibril, Gergasi, Ikan-Ikan dari Laut Merah, Gerak-Gerak Allah, Berhala, Godlob, Adam Makrifat, dan Orang Jawa Naik Haji. Beberapa dari karya sastra tersebut selama ini terus dicetak ulang.

 

9 pengoceh yang disinggung di atas dan akan membicarakan 9 karyanya adalah Yuditeha, Yudi Agusta Akhir, Ruli. R, Rizka Nur Mualifa, Rahmat Hidayat Mustamin, Han Gagas, Bunga Hening Maulidina, Andri Saptono, dan Aji Ramadhan. Sebagai penulis prosa dan puisi ke-9 pengoceh tersebut akan membahas karya-karya Danarto dalam sudut pandang mereka.

 

Fakta tentang sastrawan Danarto

Pasca kematiannya social media ramai dengan berbagai komentar ungkapa duka cita. Penyebab kepulangan sastrawan tersebut ke Rahmatullah adalah ditabrak oleh sepeda motor kala hendak menyebrang di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Untuk lebih mengenal sastrawan legendaries tersebut, berikut ini adalah fakta-fakta tentangnya.

 

Orang tua adalah pedagang dan buruh pabrik

Siapa sangka bahwa kehidupan Danarto kecil yang penuh keterbatasan membuatnya menjadi salah satu  sastrawan paling populer di Indonesia. Beliau lahir pada 27 juni 1940 sebagai putra keempat dari lima bersaudara dari pasangan Siti Aminah dan Djakio. Sang ibu adalah pedagan eceran yang berjualan di pasar kabupaten, sementara sang ayah adalah buruh pabrik gula Modjo. Pada 1 januari 1986 ia menikah dengan Zainab Luxfiati yang berprofesi sebagai psikolog dan bercerai 15 tahun kemudian setelah berumah tangga selama 15 tahun.

 

Berkesenian sejak muda

Setelah lulus  dari SMA  beliau melanjutkan studinya ke Sekolah Tinggi Seni Rupa  Indonesia yang sekarang menjadi ISI (Institut Seni Indonesia). Selain kuliah  ia juga aktif berkesenian dalam Sanggar Bambu di bawah bimbingan pelukis Sunarto Pr. Danarto juga bermain teater di sanggar Sardono dan sempat mengikuti tour teater ke Asia dan Eropa Barat pada tahun 1974. Tak hanya menulis, Danarto juga ahli dalam pementasan teater hingga melukis. Beberapa kota raja poker pernah menjadi penyelenggaraan pameran lukisannya juga menjadi penata artistik pada lakon  Oedipus yang disutradarai W.S Rendra.

Godlob

Salah satu karyanya yang cukup populer bahkan hingga tingkat internasional adalah Godlob (kumpulan cerpen, 1975) disamping karya-karya lainnya, yaitu naskah drama Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek (1976), Kacapiring (2008), dan 9 karya bukunya di atas. Beberapa cerpen karya Danarto telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling pada buku Abracadabra dan From Surabaya to Armagedon di Singapura pada 1978.

 

Prestasi sastra di tingkat internasional

Sepanjang kariernya sebagai penulis dan seniman, Danarto berkesempatan menyambangi berbagai Negara untuk mengikuti kongres, kursus penulisan, seminar, dan lain-lain. Beberapa Negara dimaksud adalah Iowa City USA, Rotterdam Belanda, hingga Kyoto Jepang.

awakening

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *