Tersingkir Dari Liga Champions, Pep Guardiola Didakwa UEFA

Tersingkir dari kompetisi antarklub tertinggi di Eropa jelas bukan sesuatu yang diinginkan Manchester City. Di tangan Pep Guardiola, fans Citizens begitu menyimpan asa mengangkat trofi Si Kuping Lebar untuk kali pertama. Semakin membuat perih karena di dua leg babak perempatfinal, City jadi bulan-bulanan Liverpool. Di leg pertama mereka kalah telak 0-3 di Anfield dan di leg kedua, City dibuat malu dan kalah dengan skor 1-2 di hadapan pendukung mereka sendiri.

 

Penderitaan City seakan dilengkapi dengan sanksi yang dijatuhkan EUFA kepada Guardiola. Pelatih asal Katalunya itu mendapat dakwaan setelah diusir wasit ke bangku penonton kala City kalah 1-2 di leg kedua hari Rabu (11/4) dini hari WIB. Guardiola sendiri dituding melakukan dua pelanggaran togel hongkong yakni protes kelewat keras atas keputusan wasit yang menganulir gol Leroy Sane karena dianggap offise dan tetap melakukan komunikasi dengan pihak-pihak di bangku cadangan usai diusir.

 

Apa yang dilakukan mantan pelatih Barcelona itu jelas melanggar pasal 69 dalam regulasi UEFA, seperti dilansir Sky Sports. Nasib Guardiola sendiri akan ditentukan lewat sidang pada 31 Mei 2018 nanti. Kalau memang bersalah, maka Guardiola terancam sanksi dilarang menemani City dalam dua pertandingan musim depan.

 

Rekor Manchester City Yang Musnah

 

Apa yang dialami City di babak perempatfinal Liga Champions 2018 ini memang bak peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Ya, tiga kekalahan yang didera City dalam satu pekan terakhir seolah menghapus rekor-rekor luar biasa mereka selama ini. Melangkah ke Liga Champions sebagai status unggulan karena raihan fantastis mereka di klub demostik, Guardiola mengajak anak asuhnya mengangkat dagu dengan permainan bola yang impresif, mematikan dan sangat menghibur.

 

Namun senyuman lebar Guardiola seolah pupus saat mengetahui jika lawan mereka di perempatfinal adalah Liverpool dengan Juergen Klopp di belakangnya. Bagi Guardiola, Klopp selayaknya batu kryptonite bagi Superman karena The Reds mungkin adalah satu-satunya klub yang tak bisa dimenangkan City. Dan ketakutan itu terwujud saat leg pertama mereka kalah 0-3 di Anfield.

 

Kekalahan itu menghantam mental pemain City yang membuat Guardiola menurunkan beberapa pemain pelapis saat menghadapi Manchester United di laga derby. Laga yang seharusnya jadi momen City mengunci gelar Liga Inggris itu justru berakhir kekalahan 2-3 di hadapan pendukung mereka sendiri. Bak luka yang belum kering, City kembali berhadapan dengan Liverpool di leg kedua perempatfinal Liga Champions dan kembali kalah menyesakkan lewat skor 1-2 di stadion Etihad.

 

Kemampuan City Masih Level Domestik

 

Penampilan memprihatinkan City di Liga Champions seolah membuktikan kalau klub yang dimiliki Khaldoon Al Mubarak itu masihlah belum bisa bersaing di level Eropa.Berjalan dengan penuh percaya diri di fase grup, City bahkan mampu menghasilkan 14 gol dan kebobolan 3 gol yang membuat mereka jadi juara grup.Namun perempatfinal adalah mimpi buruk bagi City yang membuat anggaran belanja pemain lebih dari GBP 284 juta (sekitar Rp 5,5 triliun)di musim panas 2017 dan musim dingin 2018 seolah sia-sia.

 

Membeli para pemain dengan budget fantastis sejak 2009, City justru cuma mampu memiliki dua trofi EPL, satu piala FA, tiga Piala Liga Inggris dan satu Community Shield. Apakah ini artinya selama sembilan tahun terakhir, kemampuan dan uang City cuma bisa sampai di level domestik saja?

awakening

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *